BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap perusahaan baik yang bergerak di bidang usaha
dagang maupun manu faktur pada umumnya bertujuan mendapatkan laba. Di samping tujuan tersebut
perusahaan juga harus memelihara kontinuitas usaha dan pertumbuhannya agar
perusahaan dapat berjalan dengan baik dan
berkembang.
Salah satu sumber daya yang memegang peran penting
dalam pencapaian tujuan perusahaan
adalah persediaan. Hal ini di karenakan sebagian besar aktivitas
perusahaan berhubungan dengan
persediaan. Seperti yang dituliskan oleh Terry Hill, (2010:103),
persediaan merupakan salah satu unsur aktiva lancar yang paling aktif dalam
operasi perusahaan yang diperoleh secara berkesinambungan, diubah, yang
kemudian dijual kembali. Persediaan juga merupakan elemen utama dari modal
kerja dan merupakan elemen terbesar dari harta lancar perusahaan bersifat sensitive
sehingga memerlukan perhatian khusus, terutama pada perusahaan dagang yang
membeli dan menjual barang dagangan. Dimana harga pokok barang dagangan yang
dijual merupakan pengurang terbesar dari hasil penjualan tersebut yang pada
gilirannya nanti mempengaruhi laba bersih perusahaan. Pada umumnya persediaan
dinilai
dan dinyatakan di neraca sebesar harga pokok/harga
perolehannya. tetapi, dalam keadaan tertentu, misalnya karena kerusakan fisik,
susut, perubahan tingkat harga atau sebab-sebab lain, persediaan dinilai pada
harga terendah antara harga pokok dan harga pasar.
Penerapan metode penilaian harga pokok persediaan
dalam perusahaan akan berpengaruh pada laporan laba rugi dan neraca dalam
laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan harus
berdasarkan standar yang telah
ditetapkan, salah satu
dalam memilih metode
penilaian akuntansi persediaan yang telah ditetapkan oleh standar yang
ada yaitu PSAK No. 14.
Perbedaan metode penilaian harga pokok persediaan yang
diterapkan dalam perusahaan
juga mempengaruhi nilai
persediaan akhir, harga
pokok penjualan, dan laba bersih perusahaan. Dalam
kondisi harga yang semakin
meningkat (inflasi), metode eceran akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang tinggi dan
harga pokok penjualan
yang rendah, sehingga
laba bersih menjadi tinggi.
Metode
penilaian persediaan barang yang digunakan oleh suatu perusahaan berbeda dengan
perusahaan lain. Bahkan kadangkala dalam satu perusahaan diterapkan metode yang
berbeda untuk jenis persediaan yang berbeda pula. Pada umumnya ada tiga metode
penilaian persediaan yang digunakan oleh perusahaan, diantaranya : (1) metode
FIFO, (2) metode LIFO, (3) metode rata-rata bergerak, (4) laba, dan(5) metode
eceran.
Pertama yaitu metode FIFO ini akan menghasilkan
nilai persediaan akhir yang paling tinggi karena metode
ini mengasumsikan persedian
akhir bersal dari
persediaan yang paling akhir
diperoleh, akan menghasilkan
harga pokok penjualan yang paling rendah, dan
laba kotor yang
paling tinggi dibandngkan
metode LIFO dan
rata-rata. Metode ini kurang
baik untuk mengatasi
pengaruh inflasi karena peningkatan harga perolehan tidak
diimbangi dengan pembebanan pada penjualan persediaan, tetapi meode ini dapat
memberikan informasi persediaan yang dapat dipercaya.
Kedua yaitu metode LIFO. Metode ini akan menghasilkan
nilai persediaan akhir yang paling rendah dibandingkan metode lainnya
(FIFO dan rata-rata).
Nilai yang paling
rendah tersebut karena pada
metode LIFO, persediaan
akhir adalah persediaan
yang paling awal diperoleh. Dengan demikian, dengan
metode LIFO akan
diperoleh harga pokok penjualan yang paling tinggi dan juga laba kotor
yang paling rendah. Metode ini dalm
kondisi infalsi lebih
cepat mengatasi pengaruh
harga karena kenaikan harga perolehan
langsung diimbangi dengan pembebanan nilai tersebut pada setiap penjualan
persediaan.
Ketiga yaitu rata-rata Tertimbang. Metode ini
merupakan metode yang netral antara
metode FIFO dan LIFO karena akan diperoleh
nilai persediaan akhir,
harga pokok penjualan
dan laba kotor diantara nilai
metode FIFO dan LIFO. Apabila digunakan metode rata-rata sistem periodik (weigted average method) makametde
rata-rata ini akan cenderung ke FIFO karena
nilai persediaan akhir
cenderung lebih besar
kepada persediaa yang paling akhir diperoleh.
Keempat yaitu metode LCM dan Laba Kotor. Keduanya
mempunyai dasr penilaian yang berbeda dengan metode diatas. Penilian LCM
sering bersifat subyektif
dan hanya didasarkan
pada taksiran-taksiran dan apabila taksirannya tidakmenjadi kenyataan
maka akan menyebabkan kesalahan dalam
laporan keuangan.
Kelima yaitu metode eceran (Retail). Metode ini dianggap
lebih mendekati nilai
bersih yang dapat
direalisasi dikurangi markup
bersih. Metode ini cenderung dengan metode FIFO
karena persediaan akhir dinilai terlebih dahulu dengan harga akhir
metode rata-rata.
PT.
Carrefour Makassar merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri
produk-produk yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat seperti sebagai
perusahaan industri juga tidak terlepas dari kegiatan pengadaan bahan baku yang
akan dicatat sebagai persediaan oleh perusahaan. Untuk mengetahui jumlah bahan
baku yang tersedia, maka Perusahaan juga melakukan penilaian terhadap
persediaan harga pokok persediaan dengan menggunakan metode eceran yang telah
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pada akhirnya perusahaan akan menentukan
harga pokok persediaan berdasarkan metode penilaian persediaan yang digunakan
tersebut.
Pada
umumnya setiap perusahaan dagang memiliki jenis persediaan yang disebut
persediaan barang. Persediaan barang merupakan aktiva
yang selalu berada dalam keadaan berputar atau selalu mengalami perubahan.
Penentuan besarnya jumlah persediaan memberikan efek langsung terhadap keuntungan
perusahaan. Kesalahan dalam penilaian harga pokok atau besarnya jumlah
persediaan barang di perusahaan akan mempengaruhi terhadap jumlah keuntungan
yang diperoleh perusahaan.
Persediaan
pada perusahaan bersifat aktif karena selalu berkaitan dengan kegiatan
pembelian, penyimpanan dan penjualan. Pengadaan persediaan di perusahaan harus
direncanakan dengan perhitungan yang matang yaitu sesuai dengan metode
penghitungan persediaan yang telah ditetapkan dalam Standar Akuntansi Keuangan.
Berikut tabel mengenai harga pokok
persediaan selama 3 tahun terakhir.
Tabel 1. Harga Pokok Persediaan
|
Tahun
|
Persediaan Awal
|
Persediaan Akhir
|
Selisih
|
|
2012
|
135.084.853.401
|
122.795.726.686
|
12.289.126.715
|
|
2013
|
141.919.548.513
|
130.823.094.127
|
11.096.454.386
|
|
2014
|
25.261.000.000
|
5.130.360.000
|
20.130.640.000
|
Sumber: Laporan Laba rugi PT.
Carrefour
Besarnya
jumlah persediaan yang tersedia di perusahaan akan mempengaruhi kegiatan
operasional perusahaan. Artinya jumlah persediaan tidak boleh terlalu besar dan
juga tidak boleh terlalu sedikit. Jumlah persediaan yang terlalu besar
dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan untuk produksi akan memberikan
dampak diantaranya akan memperbesar beban yang harus ditanggung perusahaan,
memperbesar biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang, memperbesar
kemungkinan kerugian karena kerusakan, turunnya kualitas, keusangan, yang pada
dasarnya akan memperkecil keuntungan perusahaan. Untuk memperkecil dampak
persediaan barang terhadap kegiatan perusahaan, maka perlu dilakukan penilaian
persediaan harga pokok.
Dengan demikian penelitian ini dengan judul “Penerapan Metode Penilaian Persediaan dan pengaruhnya
terhadap Laporan Laba Rugi pada PT. Carefour Indonesia Cabang Perintis Makassar.
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan
latar belakang yang dikemukakan, maka dalam penelitian ini penulis akan
mengemukakan permasalahan yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu “bagaimana penerapan
metode persediaan dan pengaruhnya terhadap laporan laba rugi pada PT. Carefour Makassar?”
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan
permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui bagaimana penerapan metode persediaan dan
pengaruhnya terhadap laporan laba rugi pada PT. Carefour Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Kegunaan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat
teoritis, dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu
pengetahuan manajemen sumber daya manusia, khususnya yang terkait dengan
pengaruh penerapan penilaian dan penggunaan metode eceran terhadap laporan laba
rugi.
2.
Manfaat praktis,
dapat memberikan masukan yang berarti bagi penjualan barang dalam meningkatkan
penjualan, khususnya melalui penggunaan penilaian harga pokok dan metode
eceran.
3.
Kebijakan, memberikan
masukan dan informasi tambahan bagi perusahaan yaitu PT. Carrefour Makassar mengenai
penerapan metode eceran dengan
penilaian harga pokok terhadap laporan laba rugi.
MARI BELAJAR DAN BERBAGI
BERSAMA #Andiwani.blogspot.com
Need help or explanation contact 085 341 081 000
PIN BB 5D9B809A
2 Komentar untuk "PENERAPAN METODE PENILAIAN PERSEDIAAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN LABA RUGI PADA USAHA RETAIL PT. CAREFOUR INDONESIA "
assalamualaikum, bisa diteruskan mas sampai bagian isi tidak? topiknya sangat sesuai dengan tugas kuliah saya
assalamualaikum, mas, bisa diteruskan sambai bagian pembahasan dan kesimpulan ?